Tangerang Selatan, BANTEN –. Jerit tangis histeris memecah kesunyian di kawasan Flamboyan, Ciputat, Tangerang Selatan, saat iring-iringan mobil jenazah yang membawa Capt. Egon Erawan tiba di rumah duka pada Kamis sore. Sang pilot senior maskapai Smart Air tersebut menjadi korban keganasan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dalam insiden penembakan brutal yang terjadi di Bandara Koroway Batu, Boven Digoel, Papua Selatan, pada Rabu (11/02/2026) kemarin.
Iring-iringan mobil ambulans milik Bandara Soekarno-Hatta yang membawa peti jenazah tiba sekitar pukul 17.30 WIB setelah menempuh perjalanan udara panjang dari Timika. Kedatangan almarhum telah dinanti oleh pihak keluarga yang sejak sore hari tampak terpukul dengan mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol duka mendalam bagi sang kepala keluarga.

Isak Tangis Keluarga dan Penghormatan Rekan Sejawat
Suasana haru tak terbendung saat peti jenazah yang ditutupi untaian bunga putih diturunkan secara perlahan oleh petugas. Beberapa anggota keluarga tampak lemas dan tak kuasa menahan air mata melihat kepulangan Capt. Egon dalam kondisi tak bernyawa. Di area depan rumah, tenda hijau telah berdiri kokoh, dipadati oleh ratusan pelayat yang terdiri dari tetangga, kerabat, hingga rekan-rekan sesama pilot yang hadir memberikan penghormatan terakhir bagi sang “Elang Udara”.
Deretan karangan bunga dari berbagai instansi dan kolega berjajar rapi di sepanjang jalan menuju rumah duka. Salah satu karangan bunga yang sangat mencolok bertuliskan “Selamat Jalan Pahlawan Kami Capt. Egon Erawan”, sebuah ungkapan dari rekan sejawat yang menggambarkan dedikasi almarhum selama bertugas di wilayah ekstrem Papua. Capt. Egon, yang merupakan lulusan Civil Flying School di Melbourne, Australia, dikenal sebagai sosok pilot yang sangat mencintai dunianya, terlihat dari jejak digital terakhirnya yang kerap membagikan potret penerbangan di pedalaman Papua serta hobinya pada kendaraan klasik.
Prosesi Pemakaman: Satu Liang Lahat Bersama Orangtua
Setibanya di lokasi, jenazah disemayamkan sejenak di dalam rumah duka untuk memberikan kesempatan bagi keluarga besar mendoakan almarhum. Lantunan doa, shalawat, dan dzikir terus berkumandang hingga keluar rumah, menciptakan suasana religi yang kental. Bertepatan dengan kumandang adzan Maghrib, jenazah kemudian dibawa ke masjid terdekat untuk dishalatkan secara berjamaah.
Sesuai dengan keputusan keluarga, Capt. Egon Erawan akan dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Almarhum direncanakan akan dimakamkan dalam satu liang lahat bersama kedua orangtuanya. “Bakal dimakamin di Tanah Kusir, dengan ibunya,” ujar Yonce, petugas keamanan di rumah duka kawasan Ciputat Timur.
Di sisi lain, rekan setim almarhum, co-pilot Capt. Baskoro Adi Anggoro yang juga gugur dalam insiden tragis yang sama, direncanakan akan dimakamkan pada Jumat (13/02/2026). Kepergian kedua putra terbaik bangsa ini meninggalkan luka menganga bagi industri penerbangan nasional, khususnya yang beroperasi di wilayah rawan konflik.
Kecaman Keras Ikatan Pilot Indonesia (IPI)
Menanggapi tragedi berdarah ini, Ikatan Pilot Indonesia (IPI) menyampaikan duka cita mendalam sekaligus kecaman keras terhadap aksi keji KKB. Ketua IPI, Muammar Reza Nugraha, menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan duka bagi seluruh pilot Indonesia. Berdasarkan laporan, kedua pilot diserang, dianiaya, dan ditembak secara brutal sesaat setelah mendarat di Bandara Koroway Batu.
“Tindakan tersebut merupakan pelanggaran berat terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, ICAO Annex 17, serta Chicago Convention 1944,” tegas Muammar. Ia mengingatkan bahwa penerbangan adalah moda transportasi strategis nasional yang menjadi urat nadi distribusi pangan dan layanan medis bagi masyarakat di pedalaman.
Desakan Perlindungan Objek Vital Nasional
IPI menekankan bahwa sesuai Keputusan Presiden Nomor 63 Tahun 2004, bandara merupakan objek vital nasional yang harus steril dari gangguan keamanan. Pilot sebagai pelaksana tugas negara yang menghubungkan wilayah-wilayah terpencil wajib mendapatkan jaminan keamanan penuh dari negara.
Muammar mendesak perhatian serius dari Presiden Prabowo Subianto dan Komite Nasional Keamanan Penerbangan untuk segera mengambil langkah konkret. Perlu adanya pemulihan dan jaminan keamanan yang nyata bagi para kru penerbangan yang bertugas di wilayah berisiko tinggi agar tragedi serupa tidak kembali terulang di masa depan. Gugurnya Capt. Egon Erawan dan Capt. Baskoro Adi Anggoro kini menjadi pengingat pahit akan bahaya nyata yang dihadapi para pejuang logistik di tanah Papua.

